Layanan keuangan berbasis teknologi di Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini membuat masyarakat mulai familiar dengan layanan transaksi yang dikenal sebagai fintech atau financial technology. Dari semua fintech yang ada sekarang, terdapat dua kategori layanan paling terkenal di masyarakat yakni peer to peer (P2P) lending dan pinjaman online (pinjol). Kedua jenis ini serupa tapi tak sama, namun sayangnya banyak orang yang masih belum tentang tahu fakta tersebut.

Untuk P2P Lending, ini merupakan layanan fintech yang memberikan pinjaman uang kepada bisnis atau individu secara online, serta menghubungkan pemberi pinjaman dengan peminjamnya langsung.  Semetara itu pinjol umumnya memberikan pinjaman dengan jangka waktu pendek dan nominal yang relatif kecil. Pinjaman ini ditujukan untuk membantu nasabah memenuhi kebutuhan mendesak sebelum menerima gaji dari kantor. Saat ini masyarakat kita memang lebih tertarik menggunakan jenis pinjaman online karena proses pengajuannya yang mudah dan pencairan cepat. Dalam beberapa hari atau bahkan jam, nasabah bisa mendapatkan uang segar dari penyedia layanan.

Untuk lebih mengenali kedua layanan fintech ini, silahkan simak informasi berikut.

Perbedaan P2P Lending dengan Pinjaman Online, Jangan Samakan Lagi

Banyaknya aplikasi keuangan online membuat orang salah mengartikan platform tersebut sebagai tempat meminjam uang. Masyarakat mengira bahwa kedua jenis produk fintech ini sama, padahal sebenarnya ada beberapa perbedaan yang cukup mendasar. Perbedaan fintech Peer to Peer Lending dengan pinjaman online ada pada jenis pinjaman, waktu pinjaman, tingkat bunga, tingkat rasio, serta sumber dana pinjaman. Supaya lebih jelas akan kami jabarkan satu persatu:.

  1.     Jenis Pinjaman

Aspek pertama yang membedakan kedua produk fintech ini adalah jenis pinjaman yang diberikan. P2P Lending umumnya dipinjamkan dalam bentuk dana atau modal bisnis untuk kelancaran cash flow, sedangkan pinjaman online sifatnya berupa pinjaman pribadi untuk memenuhi kebutuhan darurat.

  1.     Tingkat Bunga

P2P Lending memberikan bunga pinjaman cukup kecil mulai dari 16%-30% pertahun, sehingga cocok untuk Anda yang membutuhkan modal usaha. Sedangkan tingkat bunga yang ditawarkan pinjaman online per hari mulai dari 0,8% dan pertahun itu sekitar 292%. Mengapa bunga pinjaman online lebih tinggi dari P2P Lending? Hal tersebut disebabkan oleh acuan yang digunakan P2P Lending dalam menentukan tingkat bunga sesuai dengan lembaga keuangan lainnya, contoh perbankan. Namun untuk kecepatan dan kemudahan proses, produk fintech ini lebih unggul. P2P Lending juga tidak menjadikan biaya bunga sebagai sumber keuntungan, sebab hanya pemberi pinjaman lah yang sepenuhnya berhak memiliki keuntungan tersebut.

  1.     Waktu Pinjaman  

Perbedaan selanjutnya kedua jenis fintech ini adalah waktu pinjaman atau tenir. Pada pinjaman online, tenor tidak bisa dicicil dan harus dibayar pada satu waktu. Jika peminjam terlambat membayar, maka akan dikenakan biaya tambahan alias denda. Sedangkan untuk produk Peer to Peer menawarkan tenor mulai dari 30 hari sampai dengan 12 bulan kepada peminjam.

  1.     Tingkat Rasio

Tingkat rasio juga menjadi aspek yang membedakan P2P Lending dengan pinjaman online. Umumnya pada P2P Lending, rasio gagal bayar mengacu pada aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang pihak pendanaan sepenuhnya yang akan menanggung risiko gagal bayar nasabah. Makanya itu proses persetujuan cukup lama karena pihak penyedia layanan ini harus mempertimbangkan dengan baik siapa yang bisa diberi pinjaman dan yang tidak memenuhi credit scoring.  

Pada pinjaman online, proses persetujuan tidak seketat P2P Lending. Karena pada saat proses pengajuan itu diajukan, pihak pinjaman online memang melewatkan kemampuan nasabah dalam mengansur uang pinjamannya. Nah, itulah hal yang sering menyebabkan keterlambatan, bahkan gagal bayar. Jika sulit melakukan penagihan, kebanyakan layanan pinjol akan mengatasinya dengan menyewa pihak luar. 

  1.     Sumber Modal Pinjaman

Hal terakhir yang menjadi pembeda antara P2P Lending dengan pinjaman online adalah sumber pemberi pinjaman. Bila pinjol memberikan modal pinjaman dari uang sendiri, maka P2P Lending memberikan dana yang dititipkan oleh para investor atau disebut crowd lenders. Nah, sudah jelas bukan perbedaan kedua produk layanan keuangan ini?

Kehadiran pinjaman online dengan P2P Lending memang menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia yang terbatas secara finansial. Meski terlihat serupa, Anda harus dapat membedakan keduanya. Selebihnya, kehadiran P2P Lending dan pinjol diyakini dapat meningkatkan program pemerintah tentang inklusi keuangan.

Saat mengajukan pinjaman via aplikasi, Anda harus memahami aturan yang diberlakukan oleh pihak penyedia jasa. Berhati-hatilah dengan penawaran melalui SMS dan Whatsapp. Untuk itu, Anda dapat melakukan beberapa hal ini ketika ingin mengajukan pinjaman:

  •       Abaikan iklan menggiurkan dari pinjaman bunga besar
  •       Waspadai penyalahgunaan data pribadi
  •       Teliti syarat dan ketentuan dari penyedia layanan
  •       Mematikan rekam jejak dan legalitas platform fintech.
  •       Melakukan pengecekan di situs resmi OJK.

Silahkan gunakan layanan P2P Lending dan pinjaman online yang sudah mendapat izin dari OJK seperti misalnya Tunaiku. Semoga dengan informasi ini Anda dapat memilih produk fintech yang tepat dan sesuai kebutuhan.