Seperti yang kita semua tahu bahwa sampai saat ini konflik antara Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut. Bahkan dari info terakhir, situasi di Ukraina menjadi semakin memanas. Tentunya dengan konflik ini, akan ada efek yang terjadi. Salah satunya terkait penerbangan.

Mendengar tentang rencana Rusia yang ingin menginvasi negara Ukraina dan telah menjadi konflik ini menyebabkan banyak maskapai yang menangguhkan penerbangan mereka ke Ukraina untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Salah satu keputusan beberapa negara yang akhirnya menangguhkan penerbangan maskapai mereka dimulai setelah adanya pengumuman yang disampaikan langsung oleh Presiden Rusia saat ini , Vladimir Putin. Dimana Vladimir Putin mengumumkan bahwa telah melakukan operasi Militer khusus yang terletak di Dondas.

Inti dari pernyataan NOTAM (Notice to Air Mission atau Notice to Airmen) adalah bahwa penggunaan penerbangan atau di wilayah utara yang terdapat di perbatasan barat Rusia dengan Belarus dan Ukraina saat ini telah dihentikan sementara. Hal tersebut dikarenakan semakin tingginya ancaman yang terjadi terhadap keselamatan para penerbangan pesawat sipil setelah adanya penggunaan peralatan militer dan penggunaan senjata oleh tantara Rusia.

Kementerian Rusia pun juga memberikan pernyataan dimana pihak Rusia siap menggunakan beberapa senjata yang mempunyai presisi tinggi untuk dapat menonaktifkan system bandara militer, angkatan udara, dan bahkan sistem pertahanan udara yang dimiliki oleh Ukraina.

Salah satu yang menangguhkan penerbangannya adalah maskapai Lufthansa yang berasal dari Jerman. Lufthansa menangguhkan penerbangan mereka ke Pelabuhan Utama (Laut Hitam), Odessa dan Kiev, dan tentunya juga ke Ibukota Ukraina. Begitupun sebaliknya. Lufthansa juga menangguhkan penerbangan dari bandara-bandara di Ukraina ke Negara Jerman.

Pernyataan tersebut sudah disampaikan langsung dan secara resmi oleh juru bicara atau perwakilan dari Grup Lufthansa pada tanggal 19 Februari 2022 ditengah kekhawatiran mereka akan Invasi yang telah direncanakan oleh Rusia.

Salah satu isi dari pengumuman tersebut menyatakan bahwa prioritas utama mereka adalah keselamatan awak dan para penumpang Lufthansa. Pihak Lufthasapun akan terus memantau dengan cermat situasi yang sedang terjadi yang berhubungan erat dengan otoritas internasional maupun nasional. Sedangkan untuk penumpang yang telah terdampak dari konflik tersebut, Lufthansa akan menginformasikan dan memesankan ulang ke penerbangan alternative.

Maskapai alternative ini telah melakukan penerbangan dibawah Lufthansa dan dapat mengoperasikan sebanyak 74 penerbangan ke dan dari Ukraina setiap minggunya. Maskapai tersebut diantaranya Eurowings, Austrian Airlines, dan Swiss. Lufthansa juga mengatakan bahawa maskapai alternative tersebut akan tetap terbang ke Lviv (Ukraina Barat) yang mana itu adalah kota dimana kedutaan dari beberapa negara-negara telah dipindahkan dari ibukota Ukraina.

Selain Lufthansa, maskapai lain yang menangguhkan penerbangan meraka adalah Maskapai KLM (Belanda). Dari juru bicara KLM, menginformasikan alasan mereka menangguhkan penerbangan karena adanya ketegangan yang semakin besar atas pembangunan yang dilakukan militer Rusia di wilayah perbatasan Ukraina walaupun telah dilakukan upaya untuk meredakan konflik dan ketegangan tersebut secara diplomatik.

Info terbaru yang didapat adalah, Rusia saat ini telah mengumpulkan sebanyak 100.000 pasukan yang ditempatkan di wilayah sepanjang perbatasan Ukraina. Namun Rusia menyangkal dan membantah niat mereka untuk melakukan penyerangan.

Sehingga kementerian luar negeri seperti Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa negara yang lain mendesak untuk warganya yang tinggal di Ukraina untuk segera meninggalkan wilayah konflik tersebut. 

Disamping desakan untuk segera meninggalkan Ukraina, para negara negara tersebut seperti Jerman telah memberikan peringatan juga untuk warganya yang telah tinggal di Ukraina bahwa jika mereka tidak mau meninggalkan Ukraina, pemerintah Jerman tidak akan dapat membantu banyak jika ada serangan yang dilakukan oleh tentara Rusia yang dapat mengancam jiwa penduduk karena terbatasnya peralatan dan tenaga.

Pemberhentian sementara atau penangguhan ini tentunya mendatangkan dampak ke beberapa negara yang berbatasan langsung dengan Ukraina. Salah satu negara yang terdampak adalah Moldova.

Walaupun ada beberapa negara yang terdampak, namun keputusan itu tidak dapat diubah dikarenakan ketakutan adanya resiko keselamatan yang akan terjadi karana adanya kemungkinan penargetan yang akan disengaja atau adanya kesalahan identifikasi antara pesawat sipil dan pesawat perang.

Penggunaan berbagai dan bermacam sistem di peperangan darat bahkan udara dapat menimbulkan resiko yang sangat tinggi bagi penerbangan atau maskapi sipil jika yang sedang beroperasi dari berbagai ketinggian dan dari berbagai tingkat penerbangan.

Hal tersebut telah disampaikan langsung oleh EASA (European Union Aviation Safety Agency atau Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa). Industri penerbangan saat ini semakin memperhatikan keselamatan dan resiko konflik yang dapat ditimbulkan oleh penerbangan sipil. Faktor ini dipicu tepatnya di tahun 2014 setelah penerbangan dari maskapai Malaysia Airlines nomor MH17 yang telah sebelumnya ditembak jatuh di wilayah Ukraina bagian timur.