Melihat adanya cuti Natal dan Tahun Baru 2022, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk meniadakannya. Hal ini ditengarai untuk mengurangi pergerakan masyarakat dan mengurangi penyebaran kasus Covid 19. Tahapan ini juga didasarkan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 712 Tahun 2021, Nomor 1/2021, dan Nomor 3/2021. 

Tindakan ini sebagai langkah pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan kasus dan tidak terlena dengan beberapa penurunan yang sedang terjadi sekarang. Proses ini sebagai bentuk pencegahan atau antisipasi yang ada. Oleh karena itu, berdasarkan dari ketentuan dan kebutuhan tersebut Pemerintah Indonesia memutuskan untuk meniadakannya. 

Alasan Larangan Cuti Natal dan Tahun Baru 

Berdasarkan dari ketentuan tersebut Pemerintah Indonesia melalui keputusan Menteri tersebut membuat beberapa cuti libur hari besar nasional ditiadakan. Nah, apa saja sih alasan dibalik keputusan tersebut? Simak yuk

Mencegah Terjadinya Gelombang Ketiga Kenaikan kasus Covid 19 

Alasan utama dibalik ditiadakannya cuti natal dan tahun baru berdasarkan dari untuk mencegah membludaknya kasus Covid 19 di Indonesia. Tindakan ini sebagai bentuk antisipasi agar beberapa kasus kemarin tidak kembali besar dan berdampak pada banyak sektor lainnya, sehingga pemerintah benar-benar harus membatasinya. 

Mobilisasi masyarakat memang tidak bisa dicegah, tetapi beberapa regulasi yang muncul sebagai bentuk untuk membatasinya. Dengan demikian, pemerintah mengajak masyarakat untuk memperhatikan dan jangan sampai kenikmatan sementara berdampak panjang kembali, sehingga mengakibatkan banyak dampak pada sisi lainnya. 

Gelombang ketiga memang paling dikhawatirkan, sehingga pemerintah sudah membuat beberapa rancangan aturan dan pengaplikasian di lapangan. Kedepannya, mungkin jalan akan diberi batas pagar dan setiap karyawan baik itu swasta dan ASN/POLRI/TNI, atau pegawai BUMN/BUMD dilarang untuk mengambil atau mengajukan cuti. 

Mempertahankan Trend Positif dan Mengurangi Efek Lainnya 

Perlu diketahui semenjak Indonesia mengalami gelombang kedua kemarin itu membuat beberapa sektor mengalami dampak yang luar biasa. Jumlah kasus yang begitu besar dan pembatasan yang sangat ketat membuat beberapa sektor mengalami dampak yang sangat luar biasa dan banyak yang tidak mampu bertahan. 

Pemerintah Indonesia tidak ingin gelombang ketiga menghancurkan dan meruntuhkan trend positif sekarang ini. Dengan demikian, cuti libur untuk Hari Raya Natal dan Tahun Baru ditiadakan dan tidak diperbolehkan untuk mengambil perpanjangan. Dampaknya memang untuk kebutuhan nasional dan berharap tidak ada lagi penambahan kasus. 

Apabila ada masyarakat yang ingin bepergian dan dalam kondisi mendesak, harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan. Diantaranya harus sudah suntik vaksin dosis pertama, melakukan tes PCR atau Antigen hasil negatif, dan pengawasan akan jauh lebih ketat. Sehingga tetap bisa ditekan dan tidak ada mobilisasi besar-besaran. 

Tidak Ingin Luar Pulau Jawa Mengalami Peningkatan Kasus 

Gelombang Kedua covid 19 benar-benar memukul beberapa kegiatan yang ada di Pulau Jawa, karena kasus tertinggi paling banyak pada wilayah tersebut. Pemerintah Indonesia melalui keputusan menteri tersebut berharap ditiadakannya cuti mengenal hari raya natal dan tahun sebagai bentuk antisipasi agar tidak begitu meluas. 

Apabila tidak ada tindakan atau kebijakan yang dilakukan, ditakutkan nanti area atau wilayah luar pulau Jawa mengalami permasalahan yang sama. Apalagi pemerataan terkait fasilitas kesehatan, jumlah tenaga medis, dan jalur pendistribusian masih jauh berbeda dengan pulau Jawa, sehingga Indonesia berusaha untuk membatasinya. 

Banyak pihak menilai keputusan tersebut harus dijalankan secara maksimal, setiap lembaga negara dan masyarakat harus berkoordinasi dan saling menjaga agar tidak terjadinya penambahan kasus. Oleh karena itu, melalui beberapa kebijakan yang ada diharapkan dapat membantu untuk mencegah penyebaran. 

Perhatian Lebih ke Pulau Dewata Bali 

Pemerintahan pusat memperhatikan mengenai Pulau Bali, karena sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia dan Mancanegara yang membuat wilayah tersebut perlu diwaspadai. Apalagi sementara ini Bali telah membuka kedatangan turis asing masuk kesana. Bahkan, agenda Internasional pun banyak dilakukan disana. 

Sehingga melihat trend tersebut, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah terus berupaya untuk mampu mengantisipasinya. Dengan demikian, sebelum adanya kegiatan skala besar dan penambahan kasus yang tidak diinginkan, Kemenkes mulai melakukan rencana rangkaian uji coba, sehingga apabila setiap daerah ingin melakukan acara-acara mempunyai standarnya. 

Aturan Perjalanan Jika Mendesak 

Apabila ada masyarakat yang mendesak untuk melakukan perjalanan dinas atau kebutuhan penting lainnya, maka pemerintah Indonesia memberikan berbagai ketentuan yang sangat ketat. Jika masyarakat akan melakukan perjalanan atau bepergian pada periode yang ada tersebut, harus memenuhi beberapa syarat dan ketentuan yang pasti. 

Untuk perjalanan setiap calon penumpang minimal telah melakukan suntik vaksin pertama, melakukan tes PCR hasil negatif 3×24 jam khusus transportasi udara, dan tes antigen hasil negatif apabila Anda menggunakan transportasi darat. Mengenai penetapan atau perubahan aturan yang ada memang belum dijelaskan secara lengkap. 

Tetapi, melihat sosialisasi tersebut pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak bepergian dan mengambil cuti bersama. 

 

Nah, demikianlah penjelasan mengenai Cuti Natal dan Tahun Baru ditiadakan, sehingga harapannya tidak terjadi gelombang ketiga penyebaran kasus Covid 19.