Bangunan rumah milik pahlawan nasional dr. Radjiman Wedyodiningrat ini telah berdiri sejak 140 tahun lebih. Padahal proses pembuatan rumah ini tidak menggunakan semen, untuk merekatkan pasir dan batunya. Melainkan menggunakan semen merah, perpaduan antara tanah liat, yang digunakan dalam proses pembuatan batu bata, serta dicampurkan dengan gamping.

Sekarang ini, banyak pengunjung yang melakukan kunjungan di situs rumah dr. Radjiman Wedyodiningrat t. Letaknya yang luas di tengah-tengah perumahan desa Dirgo, Kabupaten Ngawi, sekaligus dikelilingi oleh sawah dan pepohonan jati, membawa kesan sejuk nan asri sangat melekat di rumah tersebut. 

Kesan menonjol dari rumah dr. Radjiman Wedyodiningrat ini, terletak pada gaya arsitektur bangunan, yang menggunakan perpaduan interior belanda sekaligus Jawa. Selain itu, perabotan yang sering digunakan oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat di rumahnya, masih tertata dan terjaga dengan baik hingga sekarang. Wisatawan-wisatawan banyak melakukan kunjungan ke rumah beliau ini, karena menyadari keunikan dan estetika situs bersejarah ini.

Sosok dr. Radjiman Wedyodiningrat Semasa Hidupnya

Mendapat gelar pahlawanan nasional pada tahun 2013, dr. Radjiman Wediodiningrat memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia seperti pernah menjabat sebagai pemimpin Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), menjadi dokter di Istana Kasunan Surakarta Solo, aktif menjadi wakil ketua Boedi Oetomo, menjadi anggota Dewan Rakyat/ Volksraad, dan pemimpin majalah Timboel. 

Dikutip dari historia.id, dr. Radjiman Wedyodiningrat sempat mengisi ceramah di Indisch Genootschap (Indies Institute) pada Februari 1911. Dalam ceramahnya Beliau menyampaikan jawaban atas pertanyaan, “apa orang Jawa dapat menerima pencerahan lebih lanjut?”, lalu dr. Radjiman Wedyodiningrat menjawab pertanyaan itu dengan dilengkapi kutipan dari buku psikologi. 

Melalui ceramahnya tersebut, dr. Radjiman Wedyodiningrat mendapatkan banyak pujian dan menjadi orang kedua yang telah berceramah di Indies Institute, setelah W.K. Tehupeiory.

Tata Letak Rumah dr. Radjiman Wedyodiningrat

pahlawan nasional dr. Radjiman Wedyodiningrat

Letak rumah dr. Radjiman Wedyodiningrat yang masih dijaga dan dirawat oleh juru kunci bernama Sadimin, juru kunci generasi ke-3 yang dipercaya untuk menjaga rumah bersejarah tersebut, masih kokoh meskipun telah berusia 140 tahun lebih.

Rumah tersebut menjadi tempat terakhir dr. Radjiman Wedyodiningrat menghembuskan nafas terakhirnya. Rumah tersebut, pada mulanya dimiliki oleh orang Belanda bernama Nicolas Leonard van Deuning, dan dibeli oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat seharga 13.000 gulden Belanda atau Rp 99.000.000,00. 

Dari harga tersebut dr. Radjiman Wedyodiningrat membeli tanah kering sejumlah 10,5 hektare dan tanah sawan 63 hektar. Hingga pada tahun 1938, dr. Radjiman menempati rumah tersebut yang terdiri dari rumah, lumbung padi, garasi, dan pekarangan yang luas untuk menjemur panenan padi. 

1. Bagian luar rumah dr. Radjiman

Seperti yang terlihat dalam gambar, bagian depan setelah memasuki gerbang utama rumah dr. Radjiman Wedyodiningrat, akan terdapat patung simbolik, yang mempertandakan beliau merupakan pahlawan nasional Indonesia. 

2. Lumbung Padi dan Garasi

Tampak pada gambar di atas, lumbung padi yang dulunya menjadi tempat penyimpanan pangan, namun sekarang dialih fungsikan menjadi pusat informasi. Sedangkan untuk garasi yang berada di sebelahnya sekarang ini sudah direnovasi ulang. Garasi yang dulunya digunakan untuk menyimpan mobil, sekarang ini diganti dengan patung kuda.

3. Ruang tamu dan Ruang tengah

Semua yang ada di dalam ruang tamu serta ruang tengah sampai saat ini masih ada dan bangunan yang ada di dalamnya tetap kokoh seperti lantai, plafon kayu, dan tirai kayu yang digunakan di tempat tersebut.

4. Ruang Belakang

Ruang belakang yang terdapat kusi panjang untuk bersantai merupakan tempat favorit bagi dr. Radjiman Wedyodiningrat. Beliau sering menghabiskan sore di kursi tua tersebut, sambil menghadap ke Gunung Lawu serta hamparan sawah, dengan ditemani secangkir teh.